Cerpen dan Fenomena Sosial: Belajar dari Ahmad Tohari

Tulisan ini adalah catatan pribadi saya mengikuti kelas menulis Cerpen yang diadakan oleh Langgam Pustaka. Saya percaya seorang penulis harus terus belajar dari penulis lainnya untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Hingga saat ini, saya masih aktif mengikuti berbagai kelas menulis sembari terus berkarya.

Kenapa Fenomena Sosial?

Mengangkat fenomena sosial ke dalam cerpen merupakan hal yang menarik sekaligus cukup rumit. Untuk itu, saya merasa perlu belajar pada penulis yang terbiasa menjadikan fenomena sosial sebagai bahan tulisan. Ahmad Tohari merupakan nama besar dalam dunia penulisan Indonesia. Cerpen dan novelnya berlatar belakang fenomena sosial yang terjadi di kampung halamannya.

Hal tersebut diakui oleh Ahmad Tohari dalam pelatihan yang berlangsung secara daring ini. Menurutnya kehidupan alam desa alam flora dan faunanya sangat menarik untuk dijadikan latar belakang novel. Ini juga yang sekaligus menjadi latar dari tulisan-tulisan Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari dalam pelatihan ini menyarankan untuk senantiasa menggali fenomena sosial–termasuk soal musibah dan juga kritik sosial. Menurutnya, fenomena sosial juga bisa disampaikan melalui cerpen bertema komedi.

Awal Ketertarikan pada Sastra

Seorang penulis sastra tentu saja berawal dari ketertarikan dengan dunia sastra. Hal tersebut didapatkan dari proses membaca karya sastra. Demikian halnya dengan Ahmad Tohari. Di pelatihan ini Ahmad Tohari menceritakan awal mula ketertarikannya pada dunia sastra. Beberapa karya sastra yang menjadi inspirasinya di antaranya Pramoedya, Rendra, Buya Hamka, hingga pemenang Nobel Sastra John Steinbeck (Tortila Flat, 1935).

Kesenangan membaca Ahmad Tohari sudah ada sejak muda. Ia aktif mencari buku sastra pada sejumlah perpustakaan hingga ke pasar buku bekas. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan karya besar seperti buku-buku Don Quixote.

Sebagai penulis pemula, Ahmad Tohari juga sempat merasa rendah diri. Tetapi ia terus membangkitkan semangat menulisnya. Puncaknya saat cerita pendeknya, Jasa-jasa Buat Sanwirya diterbitkan Kompas pada tahun 1971.

Tips Produktif Menulis Ala Ahmad Tohari

Menulis Setiap Hari

Ahmad Tohari menyebut dirinya sebagai seorang penulis catatan harian juga. Kadang menulis setengah halaman atau satu halaman. Bagian ini menunjukkan bahwa seorang penuis senantiasa menulis secara rutin.

Nasihat Ahmad Tohari, “Tidak semua ide dengan mudah lahir menjadi tulisan. Tidak semua ide selesai di dalam kepala. Tuliskan saja dan biarkan berkembang saat dituliskan. Ia akan berkembang berdasarkan tambahan yang baru muncul belakang.”

Bersimpati pada Fenomena Sosial

Seorang penulis harus membangkitkan rasa simpati terhadap orang yang hidupnya yang kurang beruntung. Penulis harus memiliki makna bagi orang lain. Demikian halnya dengan Ahmad Tohari, tulisannya menjadikan orang-orang yang kurang beruntung memiliki “suara”. Penulis bisa menjadi suara orang lain.

Mengembangkan Kemampuan Berbahasa

Sebagai seorang wartawan (Harian Merdeka) dan penulis, Ahmad Tohari sangat menganjurkan agar penulis terus mengembangkan kemampuan berbahasanya. Menurutnya, kemampuan berbahasa seorang penulis harus di atas rata-rata.

Ahmad Tohari di kelas ini juga menyampaikan, jika ia pernah menjadi copywriter saat bekerja di surat kabar. Salah satu karyanya ialah tagline “Susu Saya Susu Bendera“.

Punya Pengetahuan Untuk Dibagian

Tidak hanya penulis non fiksi, penulis karya fiksi pun harus memiliki pengetahuan yang nantinya akan dibagikan kepada pembaca. Pengetahuan penulis haruslah di atas rata-rata sehingga ia memiliki “sesuatu” yang akan dibagikan kepada pembaca.

Melatih Kemampuan Imajinasi

Seorang penulis (terutama sastra) haruslah memiliki imajinasi. arya sastra lahir dari kemampuan berimajinasi. Kemampuan ini bisa dilatih sejak dini. Imajinasi Ahmad Tohari bisa terlihat dari judul yang digunakan pada tulisannya. Misalnya, “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta.” atau “Mereka Mengeja Larangan Mengemis.”

Tips Lainnya

  • Hindari kalimat panjang agar mudah dipahami. 8-10 kata perkalimat.
  • Membuat judul diawal dan nanti akan diganti jika cerita berkembang
  • Membuat akhir cerita agar meninggalkan kesan mendalam.
  • Letakkan pesan terbaik di sepertiga terakhir
  • Letakkan pemantik perhatian pada judul

Related Post